Laras Sahaja : a Review.

Beberapa waktu lalu saya melihat penampilan Mr. Sonjaya kembali setelah sudah hampir dua tahun tidak melihat mereka tampil. Rasanya seperti kembali pulang ke Bandung. Kembali duduk di pojok paling kiri Reading Light dengan flat white yang kebanyakan gula dan kalimat-kalimat laporan yang tak kunjung rampung. Kembali ke jalan dago pojok dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuh, remote tv di sebelah kiri dan susu ultra milk coklat di sebelah kanan.

And i still remember that time, when Ridha Kurnia told me about his band. The conversation was like:

Saya   : Gue suka banget deh sama Pulang-nya Float ini.

Ridha  : Kalau lo suka Float, lo harus denger lagu band gue. Judulnya Fajar Nadi.

Saya   : Band lo namanya apa?

Ridha  : Mr. Sonjaya

Saya   : Band India?

Ridha  : *toyor*

That’s how it goes. Fajar Nadi adalah lagu pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan suara Dimas Dinar Wijaksana ini. His voice combine with those lyrics and tunes. It makes my heart melted.

Secara tekhnis Laras Sahaja memang merupakan album pertama dari Mr.Sonjaya, namun secara historis ini dapat dikatakan sebagai album kedua karena mereka sempat mengeluarkan EP bertajuk Perjumpaan beberapa tahun lalu. Menurut saya pribadi, ada perbedaan yang cukup terdengar di telinga antara kedua album tersebut.

Pada Perjumpaan, hampir seluruh lagunya ringan dan riang. Pada Laras Sahaja, materinya lebih berat dan musiknya lebih kaya di telinga. Singkat kata Mr.Sonjaya pada album ini sudah lebih dewasa secara musikalitas.

Salah satu lagu kesukaan saya di sini adalah “Sang Filsuf”

“Lupakanlah masa lalu, dan dia yang telah pergi. Bukanlah suatu tragedi jika kamu jatuh cinta lagi”

karena menurut mereka, cinta itu adalah peduli pada diri sendiri. Well described, dude! Sayangnya jatuh cinta lagi tidak selalu sepaket dengan melupakan.

Lalu selanjutnya apalagi kalau bukan “Langgam Suminem” 

Sulit sekali untuk tidak jatuh cinta dengan lagu ini, terutama untuk kalian yang suka dengan instrumen-intrumen yang disuguhkan Payung Teduh. This song gets me in so many levels! I play this song over and over again!

Lagu berikutnya adalah lagu yang sudah lebih dulu saya dengar sejak di album Perjumpaan. Judulnya “Part Time Lover”

Remember 500 days of summer? This is the kind of song that perfectly fit on that movie. You could easily imagine this song played in one of those romantic comedy Hollywood movies. The glockenspiel makes this song even more fun to hear.

Last but not least tentu saja ada “Girl behind the Coffee”

Bahkan teman saya sempat mengira ini bukan lagu dari salah satu band folks Indonesia. This one is deep. Really! do hear this song.

Lagu lainnya yang berada di album ini adalah Berduyun-duyun, Gadis Bersepeda, Bani Adam, Kawan Sekampoeng, Penjaringan, dan Terjun Bugi. Dan untuk kalian yang suka lagu manis, boleh mendengar dan membaca lirik Terjun Bugi. Manis sekali! Konon lagu ini terinspirasi dari keluarga Bugi. A perfect song to express your feeling to the one you love the most.

Senang rasanya mengikuti perjalanan band ini. Terlepas dari saya memang mengenal mereka secara personal, mereka memang pribadi yang sangat ramah pada siapa saja. Justru karena keramahan dan kesederhanaannya, musiknya menjadi semakin kaya. Jika penasaran, sila dengar lagu mereka di sini https://open.spotify.com/artist/6iUFomcMsqFIyq87u1UEwl . And be prepare to fallin love with them.

Selamat untuk “Laras Sahaja” nya , Mr. Sonjaya, melangkahlah lebih jauh. Semoga setiap perjumpaan semakin menyelaraskan kalian.

 

XO,

S

Leave a Reply