Tentang Rasa : A Concert

Jakarta, 20 Januari 2016 dan hujan gerimis yang jatuh tiba-tiba membuat saya mengumpat ratusan kali. Karena hujan memang tidak pernah bersahabat dengan saya dan saya harus naik ojeg untuk tiba di Gedung Kesenian Jakarta tepat waktu. Bulak balik melihat jam sudah sah menjadi hobi baru saya hari itu. Frau : Leliani Hermiasih dan keyboardnya yang ia berinama Oskar adalah salah satu dari sedikit penyanyi wanita kesukaan saya. Mengikuti perjalanan karirnya dari album Starlit Courosel membuat saya tidak bisa melewatkan konser Frau di Jakarta kali ini.

Konser yang baru dimulai pukul 8 lewat ini dipenuhi oleh para pecinta music Frau. Gedung Kesenian Jakarta yang semula sepi pun menjadi semarak. Gong tiga kali menandakan penonton sudah boleh memasuki ruangan. Saya dengan jantung berdebar menempati baris kedua dari depan. Bangku yang sangat pas untuk melihat penampilan dengan nyaman.

Lalu tidak berapa lama duduklah duo AriReda membawakan beberapa musikalisasi puisi. Ini kali pertama saya menonton mereka tampil dan saya sudah jatuh cinta pada suara mereka saat itu juga. Suara Reda Bening sekali, seperti tanpa noise sama sekali. Dan dengan dipadu oleh suara Ari yang agak sedikit serak, penampilan mereka jadi semakin luar biasa. Tidak heran hal pertama yang saya lakukan setelah keluar dari panggung tersebut adalah membeli CD baru AriReda yang ternyata memang sangat layak untuk didengar berulang-ulang.

Setelah itu semua lampu dipadamkan, ada aroma yang entah apa tercium lalu masuklah seorang wanita muda berambut pendek dengan gaun merah membawa lentera: Lani. Saya cukup kaget dengan penampilan baru Lani. Lani yang saya ingat beberapa tahun silam adalah gadis berambut ikal panjang dengan baju sederhana dengan gerak-gerik yang gugup sampai ia menyentuh pianonya.

Penampilan dibuka dengan lagu “Sembunyi” dan dilanjutkan dengan  dua lagu hasil penafsirannya terhadap puisi-puisi “Berdiri Aku” (karya  Amir Hamzah) dan “Berita Perjalanan” (Sitor Situmorang). Panggung terasa mewah walau minim cahaya dan dekorasi. Yang ada hanya Frau: Lani dan Oskar. Konser Tentang Rasa sendiri dibuat karena Lani ingin mengajak pecinta music Frau menikmati musiknya secara holistic dengan menyeluruh. Bukan hanya dengan telinga dan mata. Itu sebabnya ada berbagai aroma berbeda yang tercium di setiap lagunya. Dari mulai sabun mandi, bedak bayi, sampai aroma mie instant yang membuat saya merasa berhalusinasi ketika menciumnya.

Konser megah itu membuat Frau terlihat sudah dewasa. Hari itu saya tidak melihat lagi Lani yang saya lihat beberapa tahun silam. Tapi tenang saja, Frau tidak berubah. Kesederhanaannya tetap bisa menghangatkan siapa saja yang melihat dan mendengarnya. Lagu-lagunya tetap saja membuat saya merinding.

Lagu paling mendapat banyak sambutan tentu saja masih “Mesin Penenun Hujan” dan “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” . konser ini ditutup dengan lagu “Arah” yang langsung mendapatkan standing ovation setelahnya. Malam itu ditutup dengan gerimis manis di luar gedung, pas sekali untuk menutup malam dan mengucapkan selamat tinggal pada sang mesin penenun hujan.

Leave a Reply